Minggu, 19 Januari 2014

Aku merenung sejenak tentang apa yang sudah aku lakukan, apa saja yang sudah aku kerjakan untuk kebaikan hidupku yang lebih baik dan mandiri. Ternyata aku baru sadar bahwa semuanya belum apa-apa dibanding dengan perjuangan orang yang sangat mencintaiku, menyayangiku dan rela berkorban ikhlas untuk kebahagian anaknya. Dia adalah ibuku. Ibu yang berjuang mandiri untuk menghidupi kami, aku dan kakakku. Aku baru sadar hidupku sekarang memang jauh lebih bersyukur dibanding dengan dahulu. Sekarang untuk memimpikan apa yang kami inginkan kami berani karena kami yakin dengan usaha dan keyakinan bahwa kami mampu melakukan mimpi tersebut. Kehidupan ekonomi kami juga sangat lebih baik dibanding dahulu, karena dulu ibuku belum mampu memiliki rumah sendiri. Kehidupan kami sekarang merasa lebih baik dikarenakan kenekatan ibuku untuk merantau ke Purworejo tepatnya di Kutoarjo. Dan sekarang kami dipertemukan dengan rejeki yang membuat kehidupan ekonomi kami berubah dan dari awal bisnis beras ini kami mempunyai apa yang kami inginkan. Dari rumah, mobil walaupun belum bisa sepenuhnya menjadi hak milik kami, tiga motor dan barang2 lainnya yang bisa kami miliki. Bersyukur, bersedekah dan menjadi pribadi yang lebih baik hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami di sini adalah aku, kakak, dan ibuku. Karena kami hanya hidup bertiga.
Sekarang ku benar-benar merenung............Apa saja yang sudah aku lakukan untuk membahagiakan ibuku????Membuatnya bisa istirahat sejenak untuk tidak terlalu memikirkan beban berat yang berada di pundaknya yang mungkin sangat berat. Mengapa kelihatannya ibuku merasa tidak berat ?????”Ibu ikhlas menjalaninya dan tanpa terlalu memikirkannya”. Apa saja beban itu????Bagaimana tidak apa yang aku tahu ibu sangat berjuang keras untuk menghidupi aku dan kakakku. Membayar semua biaya dan kebutuhan hidup kami. Memenuhi apa saja yang kami inginkan. Dan itu semuanya tidak sedikit bahkan sudah ratusan juta yang ibu keluarkan untuk semuanya hanya seorang diri. Ya Allah betapa hebatnya ibuku. Betapa kuat dan sabarnya ibuku. Aku bangga mempunyai ibu sepertimu, Ibu. Walau kadang ibu membuat aku kesal, karena selalu marah-marah. Tapi aku yakin kemarahanmu adalah untuk kebahagiaan anaknya kelak. Demi kebaikan anaknya kelak. Aku berjanji suatu hari nanti ibu. AKU AKAN MEMBAHAGIAKANMU. Aku akan bersungguh-sungguh mulai sekarang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menghormatimu, membanggakan buatmu, dan menjadi anak yang sholehah. Amin. Aku seperti ingin meneteskan air mata ketika menulis tulisan dalam blog ini. Tapi aku harus kuat, sekuat ibuku seorang diri. Ibu yakinlah bahwa anakmu ini bisa sukses suatu hari nanti. Bisa menjadi pribadi yang mapan dan mandiri serta bermanfaat untuk kehidupan orang banyak. Amin.
Sekarang aku merenung untuk kehidupan masa depanku juga, yang juga mengantarkan aku bisa membahagiakan untuk ibuku atau tidak. Mulai sekarang aku harus lebih memfokuskan dia masa depanku yang lebih baik. Masa depanku masih suci. Belum ada yang bisa memastikan seperti apa masa depan seseorang. Hanya Allah SWT yang tahu tentang masa depan seseorang  seperti apa. Karena hanya Dialah yang Maha Takdir yang menentukan nasib hidup manusia. Begitu pula nasibku. Aku hanya bisa berjuang, berusaha sebaik mungkin dan selalu mendekatkan diri padaNYa, Allah SWT Tuhanku. Dan berharap masa depanku lebih baik, mapan dan mandiri serta bermanfaat untuk kehidupan orang banyak. Entah nanti diriku menjadi apa. Yang penting aku selalu berdoa sesuai dengan passionku masa depanku nanti. Amin.
Sekarang aku juga merenung............Bagaimana juga untuk kehidupan cintaku dengan lawan jenisku. Karena menurutku kita tidak selamanya harus hidup sendiri dan tidak berpasang-pasangan. Allah menciptakan hambaNya berpasang-pasangan. Iya aku anggap adalah jodoh yang menemani hidup kita sampai akhir hayat dan terpisahkan maut yaitu kematian. Sekarang aku sadar kedekatan kita dengan seseorang sebelum kita memiliki masa depan yang pasti semuanya hanya sia-sia. Membuang-buang waktu kita, tenaga dan pikiran kita. Lebih baik kita memperluas pergaulan dan berteman dengan siapa saja. Yang terpenting berteman dengan siapa asal dengan syarat kita juga mampu memilah sendiri, mana yang terbaik buat masa depan kita dan saling memberi manfaat untuk bersama. Janganlah terlalu dipikirkan kita yang belum berpasangan. Karena dengan kita memikirkan dan bertindak untuk masa depan kita sendiri untuk orang2 yang kita cintai, maka jodoh tersebut juga akan mengikuti dengan sendirinya. Dan tanpa selalu kita harus mendekatkan diri dengan maha pencipta jodoh yaitu Allah SWT. Kita meminta seperti apa jodoh yang kita inginkan. Tetap semangat dalam menjalani hidup ini. Karena hidup adalah anugerah yang sangat-sangat harus kita syukuri atas apapun yang terjadi dengan hidup kita.

Yogyakarta, 16012014

Melia Martha Santy

1 komentar: