Aku merenung sejenak tentang apa
yang sudah aku lakukan, apa saja yang sudah aku kerjakan untuk kebaikan hidupku
yang lebih baik dan mandiri. Ternyata aku baru sadar bahwa semuanya belum
apa-apa dibanding dengan perjuangan orang yang sangat mencintaiku, menyayangiku
dan rela berkorban ikhlas untuk kebahagian anaknya. Dia adalah ibuku. Ibu yang
berjuang mandiri untuk menghidupi kami, aku dan kakakku. Aku baru sadar hidupku
sekarang memang jauh lebih bersyukur dibanding dengan dahulu. Sekarang untuk
memimpikan apa yang kami inginkan kami berani karena kami yakin dengan usaha
dan keyakinan bahwa kami mampu melakukan mimpi tersebut. Kehidupan ekonomi kami
juga sangat lebih baik dibanding dahulu, karena dulu ibuku belum mampu memiliki
rumah sendiri. Kehidupan kami sekarang merasa lebih baik dikarenakan kenekatan
ibuku untuk merantau ke Purworejo tepatnya di Kutoarjo. Dan sekarang kami
dipertemukan dengan rejeki yang membuat kehidupan ekonomi kami berubah dan dari
awal bisnis beras ini kami mempunyai apa yang kami inginkan. Dari rumah, mobil
walaupun belum bisa sepenuhnya menjadi hak milik kami, tiga motor dan barang2
lainnya yang bisa kami miliki. Bersyukur, bersedekah dan menjadi pribadi yang
lebih baik hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami di sini adalah aku, kakak,
dan ibuku. Karena kami hanya hidup bertiga.
Sekarang ku benar-benar
merenung............Apa saja yang sudah aku lakukan untuk membahagiakan
ibuku????Membuatnya bisa istirahat sejenak untuk tidak terlalu memikirkan beban
berat yang berada di pundaknya yang mungkin sangat berat. Mengapa kelihatannya
ibuku merasa tidak berat ?????”Ibu ikhlas menjalaninya dan tanpa terlalu
memikirkannya”. Apa saja beban itu????Bagaimana tidak apa yang aku tahu ibu
sangat berjuang keras untuk menghidupi aku dan kakakku. Membayar semua biaya
dan kebutuhan hidup kami. Memenuhi apa saja yang kami inginkan. Dan itu
semuanya tidak sedikit bahkan sudah ratusan juta yang ibu keluarkan untuk
semuanya hanya seorang diri. Ya Allah betapa hebatnya ibuku. Betapa kuat dan
sabarnya ibuku. Aku bangga mempunyai ibu sepertimu, Ibu. Walau kadang ibu
membuat aku kesal, karena selalu marah-marah. Tapi aku yakin kemarahanmu adalah
untuk kebahagiaan anaknya kelak. Demi kebaikan anaknya kelak. Aku berjanji
suatu hari nanti ibu. AKU AKAN MEMBAHAGIAKANMU. Aku akan bersungguh-sungguh
mulai sekarang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menghormatimu,
membanggakan buatmu, dan menjadi anak yang sholehah. Amin. Aku seperti ingin
meneteskan air mata ketika menulis tulisan dalam blog ini. Tapi aku harus kuat,
sekuat ibuku seorang diri. Ibu yakinlah bahwa anakmu ini bisa sukses suatu hari
nanti. Bisa menjadi pribadi yang mapan dan mandiri serta bermanfaat untuk kehidupan
orang banyak. Amin.
Sekarang aku merenung untuk
kehidupan masa depanku juga, yang juga mengantarkan aku bisa membahagiakan
untuk ibuku atau tidak. Mulai sekarang aku harus lebih memfokuskan dia masa
depanku yang lebih baik. Masa depanku masih suci. Belum ada yang bisa
memastikan seperti apa masa depan seseorang. Hanya Allah SWT yang tahu tentang
masa depan seseorang seperti apa. Karena
hanya Dialah yang Maha Takdir yang menentukan nasib hidup manusia. Begitu pula
nasibku. Aku hanya bisa berjuang, berusaha sebaik mungkin dan selalu
mendekatkan diri padaNYa, Allah SWT Tuhanku. Dan berharap masa depanku lebih
baik, mapan dan mandiri serta bermanfaat untuk kehidupan orang banyak. Entah
nanti diriku menjadi apa. Yang penting aku selalu berdoa sesuai dengan passionku masa depanku nanti. Amin.
Sekarang aku juga
merenung............Bagaimana juga untuk kehidupan cintaku dengan lawan
jenisku. Karena menurutku kita tidak selamanya harus hidup sendiri dan tidak
berpasang-pasangan. Allah menciptakan hambaNya berpasang-pasangan. Iya aku
anggap adalah jodoh yang menemani hidup kita sampai akhir hayat dan terpisahkan
maut yaitu kematian. Sekarang aku sadar kedekatan kita dengan seseorang sebelum
kita memiliki masa depan yang pasti semuanya hanya sia-sia. Membuang-buang waktu
kita, tenaga dan pikiran kita. Lebih baik kita memperluas pergaulan dan
berteman dengan siapa saja. Yang terpenting berteman dengan siapa asal dengan
syarat kita juga mampu memilah sendiri, mana yang terbaik buat masa depan kita
dan saling memberi manfaat untuk bersama. Janganlah terlalu dipikirkan kita
yang belum berpasangan. Karena dengan kita memikirkan dan bertindak untuk masa
depan kita sendiri untuk orang2 yang kita cintai, maka jodoh tersebut juga akan
mengikuti dengan sendirinya. Dan tanpa selalu kita harus mendekatkan diri
dengan maha pencipta jodoh yaitu Allah SWT. Kita meminta seperti apa jodoh yang
kita inginkan. Tetap semangat dalam menjalani hidup ini. Karena hidup adalah
anugerah yang sangat-sangat harus kita syukuri atas apapun yang terjadi dengan
hidup kita.
Yogyakarta,
16012014
Melia
Martha Santy
jadi terharu, n kagum....,
BalasHapus